Cerpen 1
Cerpen ini (klo bisa disebut cerpen) masih belum ada judulnya. Minta tolong bagi yang membaca, kasih masukan judul donk? Thanks before. Selamat Membaca.
—–
Keinginanku untuk menyendiri malah membentengi perasaanku padanya. Entah bagaimana perasaanku padanya saat ini, yang pasti itu sudah terlajur berputar. Namun tidak pernah lebih dari itu dan itu belum cukup.
Kenangan akan masa lalu juga sedikit banyak mempengaruhiku. Kenangan itu membelengguku. Dan aku tidak pernah beranjak dari tempat yang sama. Berputar putar pada persaan yang sama. Sial!!
Seekor lalat terbang mengelilingi kamar ku, membuatku merasa muak. Dan semakin memuakkan ketika ia hinggap disudut ruangan sambil menghadap kearahku seakan menertawakanku.
Ia menatapku seolah-olah ia berkata “Apa yang kau butuhkan saat ini?”
“Ini bukan masalah kebutuhan, ini masalah perasaan. Tahu apa kamu tentang perasaan?” aku menjawab ketus.
“Bagaimana dengan perasaan dibutuhkan dan perasaan membutuhkan? Apakah itu masalah perasaan atau masalah kebutuhan?” kembali ia bertanya.
“Ah! itu hanya permainan kata saja! Sama seperti yang biasa kamu lakukan.”
“kau belum menjawab pertanyaan sebelumnya dan itu bukan jawaban.”
“…” aku terdiam.
Lalat itu terbang keluar jendela, namun aku mendengar kata-kata yang menggaung di kepalaku semakin keras. “Akuilah, kau membutuhkannya. kau membutuhkan perasaan itu dan kau tahu itu. kau merasakannya. kau merasakan kebutuhan itu dan kau tahu itu.” kata-katanya memojokkanku.
“Cukup!” bentakku.
“Kemarahanmu semakin menegaskan perasaan dan kebutuhanmu.”
“Gila! Aku yang berkuasa atas pikiran dan tubuhku. Bukan dirimu! Kamu hanya suara-suara yang menggaung dikepalaku. Bahkan keberadaanmu tidak kuakui!”
“Lalu mengapa kau menanggapiku? Dan kenapa juga kau berusaha mengalihkan pembicaraan? Apa karena kau benar-benar membutuhkan perasaan itu dan kau benar-benar merasakan kebutuhan itu?”
“SHUT UP! Berhenti melakukan permainan kata itu lagi!” aku benar-benar terpojok sekarang.
“Akuilah kenyataan bahwa kau tak suka melihat dirinya pulang dibonceng laki-laki lain. Akuilah kenyataan bahawa kau selalu mencuri kesempatan memandang wajahnya walau hanya sekedip saja. Hanya untuk menikmati keindahan lekuk wajahnya. Akuilah kenyataan bahwa kau selalu berharap dia akan merespon perasaanmu. Akuilah kenyataan bahwa kau ingin dirinya lah yang berada disampingmu saat ini. Akuilah…”
“DIAM!” aku memotongnya, “Aku yang menentukan perasaanku dan aku pula yang menentukan kebutuhanku. Bukan dirimu!”
“Keangkuhanmu sudah melewati batas, Sobat!” dia berusaha menenangkanku dengan mengakrabiku.
“Aku bukan sobatmu!”
“Keangkuhanmu membutakan mata hatimu atas perasaan itu. Keangkuhanmu membuatmu merasa tidak membutuhkan orang lain untuk berbagi perasaan itu. Keangkuhanmu membuatmu merasa sanggup berdiri sendiri. Padahal tidak!”
“Kumohon, diamlah…” ucapku merendah, “Baiklah kamu benar. Aku memang terlalu angkuh untuk mengakuinya. Aku terlalu angkuh untuk mengaku aku mencintainya.”
“Lalu apalagi yang kau tunggu?” dia bertanya tidak sabar.
And the clouds above move closer/ looking so dissatisfied// And the ground below grew colder/ as they put you down inside// But the heartless wind kept blowing, blowing. Valentine’s Day mengalun lembut mengisi ruang kamarku.
Kemudian aku menjawab pelan “Masa lalu.”
“Itu lagi? Gila! Bukankah kau sudah meninggalkan masalalu itu dibelakang? Kenapa kamu terus mengingatnya?”
“Aku tidak mengingatnya! Itu terjadi begitu saja!” aku mengelak.
“Itu tidak akan terjadi jika kau tak menginginkannya!” ia kembali memojokkanku.
“Aku tidak berdaya!” kembali aku membela diri.
“Itu masalalu! Lupakanlah! kau tak menginginkannya dan kau tak pernah mengharapkannya!” ia mencecarku dengan kata-katanya.
“…” aku terdiam.
“Lupakanlah masalalu itu, cari perasaanmu yang baru! Mulailah sesuatu yang baru.” ia berusaha menasihatiku.
“Jangan mendikteku!”
“Lihat! Keangkuhanmu kembali. Apakah kau kan menghardikku lagi seperti yang biasa kau lakukan?” ia mengejekku.
“DIAM!” hanya itu yang bisa kukatakan. Sementara dia berkata lebih banyak dan hanya itu yang bisa kukatakan.
“Baiklah kalau kau memilih mati dengan masalalumu. Berkubanglah dalam kenangan dan khayalan semu. Tenggelamlah dalam kemunafikanmu!”
So now you’re gone/ and I was wrong/ I never knew what it was like/ to be alone…
—–***—–
Sidoarjo, 25 September 2007.

klo aku judulnya “Rasa dan Asa” aja deh! abis tuh orang plin plan. ya..munafiq gicu deh!
Salam kenal dari http://pcmavrc.wordpress.com
Thanks,, jadi malu neh. tu kan sebagian dari pengalaman pribadiku sendiri.
nanti judulnya dipertimbangkan lagi. thanks buwat partisipasinya!
“Pengalaman Pribadi” cerpen/curahan hati????
klo aku baca, seperti orang yang sedang galau,mungkin banyak juga yang merasakan seperti apa yang pernah kamu rasakan….
judulnya “Adalalatdirumahkukarnakamumalasbersihbersih”
gyahaha
ato gg Lalat, aku, dan kisah lalu
hahaha
dari segitu banyak tulisan, yang dibaca cuman lalatnya doank! tapi boleh juga tuh judulnya! Thanks ya!