Bangun pagi yang ada perut laper. Alhamdulillah Ibuku yang pengertian sudah menyiapkan nasi goreng lauk dendeng. Samber deh!
Alhasil, aku makan didepan komputer sambil ngerjakan beberapa tugas. Sesendok demi sesendok. Sesuap demi sesuap.
Nggak Tidak lama kemudian, ada yang ganjil di sendokku. Aku amati dalam-dalam. Pertama aku pikir itu potongan ikan asin yang juga digoreng Ibuku.
Dari hasil pengamatanku, aku melihat adanya satu buah kepala, tiga pasang pangkal kaki, dua pasang sayap yang tertutup, dengan perut oval berbuku.
Gila! Ada kecoak di dendengku! Bisa bayangkan gak? Hewan yang paling aku benci karena gilo bin jijik berada sepiring dengan nasi goreng dan menempel di dendeng ku. Jelas saja nafsu makanku seketika pudar. Akupun laporan ke Ibu, “Bu, ada kecoak nempel di dendeng!” sambil aku tunjukkan bangkai kecoak yang bersemayam di sendok.
Ibu menyahuti, “Kok bisa?” dengan kaget.
Aku menimpali. “Kok bisa? Aku nggak nafsu makan lagi nih Bu.”
“Bikin mie aja, Mas? Nasi sama dendengnya dibuang aja.” aku menangkap sedikit nada kekecewaan dari saran Ibu.
“Nggak wes, dendengnya aja yang aku buang. Nasinya aku makan.”
“Nggak apa-apa ta? Nggoreng telor ceplok lho?”
“Iya.”
Akhirnya makan dilanjutkan hanya dengan pikiran biar nggak kelaparan tanpa nafsu makan. Sendoknya aku ganti. Walau sebenernya masih kepikiran sama tubuh mati kecoak yang pernah berada satu piring dengan nasi dan dendeng ku.
Allahumma bariklanaa fimaa rozaqtana waqina adzabannaar. Amin.
Dendeng Kecoak
Cerpen 1
Cerpen ini (klo bisa disebut cerpen) masih belum ada judulnya. Minta tolong bagi yang membaca, kasih masukan judul donk? Thanks before. Selamat Membaca.
—–
Keinginanku untuk menyendiri malah membentengi perasaanku padanya. Entah bagaimana perasaanku padanya saat ini, yang pasti itu sudah terlajur berputar. Namun tidak pernah lebih dari itu dan itu belum cukup.
Kenangan akan masa lalu juga sedikit banyak mempengaruhiku. Kenangan itu membelengguku. Dan aku tidak pernah beranjak dari tempat yang sama. Berputar putar pada persaan yang sama. Sial!!
Seekor lalat terbang mengelilingi kamar ku, membuatku merasa muak. Dan semakin memuakkan ketika ia hinggap disudut ruangan sambil menghadap kearahku seakan menertawakanku.
Ia menatapku seolah-olah ia berkata “Apa yang kau butuhkan saat ini?”
“Ini bukan masalah kebutuhan, ini masalah perasaan. Tahu apa kamu tentang perasaan?” aku menjawab ketus.
“Bagaimana dengan perasaan dibutuhkan dan perasaan membutuhkan? Apakah itu masalah perasaan atau masalah kebutuhan?” kembali ia bertanya.
“Ah! itu hanya permainan kata saja! Sama seperti yang biasa kamu lakukan.”
“kau belum menjawab pertanyaan sebelumnya dan itu bukan jawaban.”
“…” aku terdiam.
Lalat itu terbang keluar jendela, namun aku mendengar kata-kata yang menggaung di kepalaku semakin keras. “Akuilah, kau membutuhkannya. kau membutuhkan perasaan itu dan kau tahu itu. kau merasakannya. kau merasakan kebutuhan itu dan kau tahu itu.” kata-katanya memojokkanku.
“Cukup!” bentakku.
“Kemarahanmu semakin menegaskan perasaan dan kebutuhanmu.”
“Gila! Aku yang berkuasa atas pikiran dan tubuhku. Bukan dirimu! Kamu hanya suara-suara yang menggaung dikepalaku. Bahkan keberadaanmu tidak kuakui!”
“Lalu mengapa kau menanggapiku? Dan kenapa juga kau berusaha mengalihkan pembicaraan? Apa karena kau benar-benar membutuhkan perasaan itu dan kau benar-benar merasakan kebutuhan itu?”
“SHUT UP! Berhenti melakukan permainan kata itu lagi!” aku benar-benar terpojok sekarang.
“Akuilah kenyataan bahwa kau tak suka melihat dirinya pulang dibonceng laki-laki lain. Akuilah kenyataan bahawa kau selalu mencuri kesempatan memandang wajahnya walau hanya sekedip saja. Hanya untuk menikmati keindahan lekuk wajahnya. Akuilah kenyataan bahwa kau selalu berharap dia akan merespon perasaanmu. Akuilah kenyataan bahwa kau ingin dirinya lah yang berada disampingmu saat ini. Akuilah…”
“DIAM!” aku memotongnya, “Aku yang menentukan perasaanku dan aku pula yang menentukan kebutuhanku. Bukan dirimu!”
“Keangkuhanmu sudah melewati batas, Sobat!” dia berusaha menenangkanku dengan mengakrabiku.
“Aku bukan sobatmu!”
“Keangkuhanmu membutakan mata hatimu atas perasaan itu. Keangkuhanmu membuatmu merasa tidak membutuhkan orang lain untuk berbagi perasaan itu. Keangkuhanmu membuatmu merasa sanggup berdiri sendiri. Padahal tidak!”
“Kumohon, diamlah…” ucapku merendah, “Baiklah kamu benar. Aku memang terlalu angkuh untuk mengakuinya. Aku terlalu angkuh untuk mengaku aku mencintainya.”
“Lalu apalagi yang kau tunggu?” dia bertanya tidak sabar.
And the clouds above move closer/ looking so dissatisfied// And the ground below grew colder/ as they put you down inside// But the heartless wind kept blowing, blowing. Valentine’s Day mengalun lembut mengisi ruang kamarku.
Kemudian aku menjawab pelan “Masa lalu.”
“Itu lagi? Gila! Bukankah kau sudah meninggalkan masalalu itu dibelakang? Kenapa kamu terus mengingatnya?”
“Aku tidak mengingatnya! Itu terjadi begitu saja!” aku mengelak.
“Itu tidak akan terjadi jika kau tak menginginkannya!” ia kembali memojokkanku.
“Aku tidak berdaya!” kembali aku membela diri.
“Itu masalalu! Lupakanlah! kau tak menginginkannya dan kau tak pernah mengharapkannya!” ia mencecarku dengan kata-katanya.
“…” aku terdiam.
“Lupakanlah masalalu itu, cari perasaanmu yang baru! Mulailah sesuatu yang baru.” ia berusaha menasihatiku.
“Jangan mendikteku!”
“Lihat! Keangkuhanmu kembali. Apakah kau kan menghardikku lagi seperti yang biasa kau lakukan?” ia mengejekku.
“DIAM!” hanya itu yang bisa kukatakan. Sementara dia berkata lebih banyak dan hanya itu yang bisa kukatakan.
“Baiklah kalau kau memilih mati dengan masalalumu. Berkubanglah dalam kenangan dan khayalan semu. Tenggelamlah dalam kemunafikanmu!”
So now you’re gone/ and I was wrong/ I never knew what it was like/ to be alone…
—–***—–
Sidoarjo, 25 September 2007.
Lihat
Dengar jerit tangis
Bukan dari mulutku
Bukan dari diriku
Dari perut lapar
Yang mengais sampah
Demi sebutir beras
Demi sesuap nasi
Menengadahkan tangan
Untuk sekedar mengganjal perut
DIMANAKAH KALIAN?
Orang orang yang berteriak
Melantangkan kebebasan
Melantangkan persamaan
DIMANAKAH KALIAN?
Orang orang yang mengaku
Berjalan bersama Rakyat
Berjuang bersama Rakyat
Lihat bulir air mata
Air mata darah
Dari kesedihan akan kehilangan
Karena kekerasan membudaya kita
Air mata yang tidak sempat
Menetes ke tanah
Bahkan tak sempat menitik keluar
Karena takut kekerasan
Yang jadi kebiasaan
DIMANA KALIAN?
Orang orang yang berteriak
Melantangkan perdamaian
Melantangkan anti-kekerasan
DIMANA KALIAN?
Orang orang yang bekerja
Menegakkan keadilan
Menghapus kekerasan
Maling ayam dipenjara
Kerah putih berfoya-foya
Perhatikan kebodohan
Bukan karena memang bodoh
Hanya karena buta
Buta Aksara
Mereka melihat
Tapi mereka buta
Harusnya mereka belajar
Harusnya mereka membaca
Tapi mereka tidak
Sekolah mahal, katanya!
Apakah belajar hanya di sekolah?
Apakah kau mendapatkan semua pelajaran di sekolah?
Apakah kau mendapatkan pelajaran tentang kehidupan di sekolah?
Jika kau dapat,
Mengapa masih ada orang mengais sampah
Hanya untuk sesuap nasi?
Mengapa ada darah
Tercecer di tanah?
Apakah kau buta huruf?
TIDAK
Kau hanya buta keadaan di sekitarmu
Kau memiliki kekuatan untuk merubah
Tapi kau buta keadaan sekitar
Bagaimana bisa berubah?
